Menjaga pikiran agar tetap waras


Ada Seorang teman yang menduduki posisi penting dan strategis di sebuah instansi, eh, hidupnya masih biasa-biasa saja. Status masih kontraktor artinya ya ngontrak sana ngontrak sini tergantung kebutuhan dan isi dompetnya. Mobil jatah kantor masih setia dipakai untuk mobilitas sehari-hari. Hidup sederhana jauh berbeda dengan penampilan teman sejawatnya yang tampil ‘wah’

‘Wuiihhh… pejabat penting kok cuma gini aja,’ kataku iseng.

‘Hehehe,’ si teman ini cuma tertawa. ‘ya ini yang bisa aku dapatkan dengan keringat dan isi kepalaku.’

‘Maksudnya?’

‘Keringat yang aku keluarkan dalam pekerjaan cuma bisa mendapat yang model ini, dan kebodohanku yang membuat aku tidak bisa seperti mereka.’

‘Enggak ngerti …’ kataku.

‘Begini … suatu ketika aku pernah nanya ke senior. Tanyaku … pak, kenapa aku cuma dapat segini sedangkan teman-teman yang lain bisa mendapat yang jauh diatasku? … Eh, senior itu menjawab … Itu artinya kamu golongan bodoh karena tidak bisa memanfaatkan posisi dan jabatan.’

‘Hahahaha …’

‘Sedih banget ya … ternyata aku termasuk golongan bodoh dan mereka lebih pintar memutar otak untuk mendapatkan nilai tambah dari jabatannya.’

Catatan :
Inti cerita diatas nyata adanya, saya hanya mengedit sebagian.

Teman itu lalu menjelaskan bahwa dia sekuat tenaga berusaha menjaga pikiran agar tetap waras dan tidak ikut gila pada harta dan kemewahan. Katanya, sungguh sulit menahan nafsu untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya sementara kesempatan dan peluang terbuka lebar di depan mata.

‘Apa yang membuatmu tidak meniru gaya mereka?’

‘Keberanian! Aku tidak memiliki modal keberanian seperti mereka. Aku terlalu pengecut dan penakut. Kalau bicara kesempatan dan peluang itu aku rasa sama saja, asal aku mau dan mampu memanfaatkannya. Aku hanya ingin kerja enak dan nyaman, makan enak, dan tidur nyenyak tidak dibayang-bayangi dosa dan rasa bersalah karena telah melakukan sesuatu yang dilarang. Selain itu, aku ingin membawa uang bersih ke rumah. Tidak dikotori oleh nafsu gilaku …’

‘Hmmm …’

Dan, obrolan sore itu tidak ada kesimpulan. Ternyata, aku pengecut dan penakut! Itu yang saya dapatkan darinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s