Dosa Berjama’ah?


Jama’aaahhhhh … yeaahhhh! … Anda ingin teriakan kata-kata itu. Kalau anda rajin bangun pagi dan menyaksikan siaran tipi ‘anu’ pasti hapal dengan suara Ustadz ‘itu’ yang kocak dan lucu (?) dalam menyampaikan dakwahnya.

Disini saya tidak akan membahas soal agama dan latar belakang pendidikan atau karir pak Ustadz ‘itu’. Saya pengin sedikit berbagi tentang dosa berjama’ah.

Dosa Berjama’ah? Apaan tuuhhhh??? …

Jama’ah artinya kumpulan, rombongan, jamak, banyak (orang). Jadi dosa berjama’ah artinya ya (kira-kira) dosa yang dilakukan oleh sekumpulan orang dengan (secara) sadar, tanpa paksaan (?) dan masing2 sudah tau (tetapi pura-pura tidak tau!) resiko yang akan terjadi dengan perbuatan dosa nya itu.

Kenapa saya ingin berbagi soal ini?

Karena … oh karena … berjudi itu haram *bang Haji Rhoma Irama mode ON*
Karena di jaman globalisasi (atau gombalisasi) ini, kita tidak lagi malu-malu dan melakukan secara sembunyi-sembunyi atas sebuah pekerjaan dosa yang dilarang oleh hukum, adat, dan agama manapun juga. Tragisnya, kita malah bangga sudah berbuat dosa!

Apa buktinya?

Detik.com menuliskan begini:
Mau jujur malah hancur. Itulah yang dialami Siami dan AL, putranya, yang mengungkap kasus contek massal SDN Gadel II/577 Tandes, Surabaya

Hebat ya? Kasus contek massal gitu loohhh … dan itu dilakukan oleh para siswa Sekolah Dasar Negeri  (SDN) dengan dibantu oknum guru dan mendapatkan legalitas restu dari oknum kepala sekolah.

Yang membuat saya tambah bingung dan tak mengerti, orang tua siswa alias wali murid itu, kok malah mendukung SDN Gadel II/577 Tandes Surabaya itu. Mereka malah beramai-ramai dan kompak menyerang ibu Siami dan AL putranya. Mereka marah ketika kasus aneh ini mencuat dan menjadi bahan pembicaraan orang serta nongol di berita media. Mereka malah mengusir keluarga si ibu dari desanya.

Apa yang sedang terjadi dengan rakyat negeri ini?
Kejujuran malah dijadikan musuh. Orang jujur malah dianggap sok suci, munafik dan diserang / tersingkir karena tidak bisa diajak kerjasama dalam dosa dan kesalahan. Ternyata, jujur itu sangat berat dan mahal harganya.

Seorang teman yang kebetulan bapak Dosen di sebuah Universitas Swasta di Jogja berkomentar gini, ‘Kalau sedari kecil (sekolah dasar), mereka sudah diajari berbuat curang, maka janganlah berharap mereka akan jujur di saat besar dan harus masuk dunia kerja. Mereka akan mencari enak sendiri dan tidak bertanggung jawab. Mereka tidak mau bekerja keras dan kemungkinan besar akan berlaku curang yaitu korupsi!’

Apakah rakyat sudah sakit akut dan tidak bisa disembuhkan?

Dalam diskusi intern di cara membuat grup Facebook, ada teman yang berkomentar: ‘Rakyat sakit! Orang jujur malah ajor! Masyaraat sudang sering dibohongi sehingga ikut  belajar berbohong lebih suka yang bohong bohong … Indonesia Penuh Panggung Sandiwara –  mulai dari atas (pejabat dan wakil rakyat) sampai tingkatan bawah penuh dengan ketidak jujuran. Astaghfirullahal’adzim….’

Ada juga komentar gini : ‘Naliko CILIK gaweane nyontek, bareng gede kerjo kantoran bakal dadi “tikus kantor” nggrogoti duite wong CILIK…’

Tetapi ada juga yang seperti ini: ‘Kalau mau jujur jangan di Indonesia,salah tempat! Jujurnya salah waktu dan tempat … hohoho …. Indonesia gitu loh!’

Banyak kasus terungkap soal ketidak-jujuran aparat pemerintah, pegawai negeri / BUMN, wakil rakyat yang terhormat dan lain-lain … tetapi (mungkin) lebih banyak kasus yang tidak pernah terungkap.
Kata seorang teman yang tau hukum, begini: ‘Kalau mau bersih-bersih ya semua wajib disikat habis dan akibatnya bisa kacau negeri ini. Banyak yang terlibat kasus korupsi dan mereka yang tertangkap ya karena memang nasibnya lagi apes saja. Makanya kalau mau nakal itu harus yang cerdas dan rapi, biar semuanya aman lancar dan terkendali.’

Wah, sebuah pembenaran untuk sebuah kesalahan ya? Nakal yang cerdas dan rapi! Eh, itu dimana belajarnya? Siapa gurunya?

Ketika kondisi Indonesia sudah seperti ini, apa yang akan kita lakukan?

Dalam agama, curang / tidak jujur akan mendapatkan dosa. Apakah mereka sudah lupa akan ajaran agamanya? Hmm …

Saya tidak berani mengatakan kalau saya ini orang suci, tiada dosa dan cela, dan tidak pernah berbuat nakal. Saya hanya manusia biasa yang bodoh dan penuh dosa tetapi (Insya Allah) saya tidak akan mengajarkan cara berbuat curang pada anak kesayangan kami sekeluarga.

Bagaimana dengan anda?
Silahkan tuliskan opini dan komentar anda yang mungkin bisa menjadi pembelajaran buat kita bersama.

3 thoughts on “Dosa Berjama’ah?

  1. inilah mengapa negeri ini dibuatkan film “Alangkah lucunya negeri ini” negeri yg kita bangun dgn rasa hormat n perjuangan kini hanya jadi negeri yg tak punya rasa hormat n hal tabu jadi biasa.

  2. Pingback: Siami ‘Pembongkar Contekan Massal’ « rafile

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s