Great Movie, Brutal Fighting … Ya, itu kalimat yang tertulis dalam film ONG BAK 3 yang dibintangi oleh Tony Jaa.

Film produksi Thailand ini sudah mencuri perhatianku karena ceritanya yang sebetulnya sederhana, tetapi penuh dengan adegan pertarungan yang benar-benar brutal dan keras. Memang sesuai dengan promo yang tercetak dalam sampul DVD nya.

DVD seharga Rp. 5.000,- per keping ini banyak dijual di pedagang kaki lima di sekitar kita. Cukup murah meriah untuk mendapatkan kepuasan tontonan dan bisa dinikmati sekeluarga.
Aku sarankan agar anak dibawah 13 tahun mendapatkan bimbingan yang baik dan benar saat menonton film ini karena banyak adegan kekerasan.

Menurut si Mbak penjual DVD, saat ini film produksi Thailand sedang naik daun dan dicari oleh konsumen. Selain serial Ong Bak ada juga film berjudul Yamada ‘the samurai of ayothaya’ yang dibintangi Kanokkorn Jaicheun, Seki Oseki, Sorapong Chatree, Thanawut Ketsaro dan Winai Khaibutr.

Untuk judul-judul film yang lainnya masih banyak, silahkan anda cari ke lapak penjual DVD di sekitar anda.

Sebetulnya, secara tehnologi, aku menganggap film Thailand terlalu sederhana jika dibandingkan dengan karya sineas Hollywood yang bisa menghasilkan film megah berbiayai jutaan dollar seperti Jurasic Park, Titanic, 2012, maupun karya Walt Disney yang penuh daya imajinasi.

Film Thailand tidak perlu menjual sensualitas artisnya dengan mengundang bintang porno yang mau tampil buka-bukaan untuk menarik penonton. Dalam beberapa film yang pernah aku tonton, Thailand berusaha mengesplorasi seni Bela Diri Tinju Thailand (Kick Boxer) yang khas dan menawan. Bela Diri ini memang full body contact sehingga menghasilkan tontonan asyik buat penggemarnya, termasuk aku.

Dalam pemikiran bodohku, seharusnya Indonesia juga bisa membuat karya film seperti ini. Kita punya Pencak Silat yang memiliki banyak cabang dan aliran dengan ribuan bahkan ratusan ribu jurus kembangan yang bisa dijual sebagai aset budaya bangsa.

Aku percaya bahwa sineas kita cukup pintar dan sangat disayangkan apabila energinya dihabiskan hanya untuk membuat film yang mengupas tentang hantu, tuyul, kuntilanak, pocong, demit dan lain-lain dengan tambahan adegan seks dan menampilkan tubuh seksi telanjang artis lokal maupun import dari komunitas adult movie negeri tetangga.

Setelah dijajah oleh Hollywood dan Bollywood … apakah kita juga akan dikuasai oleh Thailand yang mengekor kesuksesan film Korea, China, Jepang, dan Hong Kong?
Bagaimana menurut anda?

Recent Posts :

Advertisements