Kacamata Sales


Konon, ada sebuah perusahaan yang memproduksi produk X di kota kecil. Boss dari PT Maju Bersama (kita sebut saja namanya begitu) ini punya visi ke depan. Dia pengin mengembangkan pasar dengan ekspansi pasar produknya ke kota besar dan pilihannya adalah Jakarta.

Si boss ini segera mengirimkan sales terbaiknya untuk membuka jaringan di Jakarta, tetapi 3 bulan berikutnya si sales terbaik ini pulang kampung dengan laporan, “Ampuunnn, pak boss! Jakarta terlalu berat untuk pasar produk kita. Disana banyak produk dan kualitas sejenis dengan harga murah. Saya 3 bulan menawarkan dari pintu ke pintu dan semuanya menolak. Produk kita tidak ada yang kenal. Mungkin kita perlu melakukan program promosi gede-gedean dahulu sebelum ekspansi ke luar kota.”

Intinya, si sales terbaik ini menyerah kalah pada pertarungan dan persaingan kompetisi produknya di pasar Jakarta.

Si boss merasa kecewa tetapi dia tetap punya ambisi untuk ikut bermain di pasar ibukota Jakarta. Seiring perjalanan waktu, si boss agak melupakan cita-cita dan ambisinya karena kesibukan kerja yang menguras energi, waktu dan pikirannya. Hingga pada suatu hari ada seorang pemuda Fresh Graduate / No Experience Jobs yang melamar pekerjaan di PT Maju Bersama itu.

Wawancara langsung antara pencari kerja dengan si boss.

Si boss : Anda mau kalau saya tempatkan di Jakarta.
Si Pencari kerja : Hmm … Insya Allah mau, pak. Tapi kalau boleh memilih ya saya minta area sini saja atau kota tetangga yang lebih dekat.

Si boss : Tidak ada posisi untuk lokal. Tinggal pilih area Jakarta, MAU atau TIDAK?
Si Pencari kerja : Siap, pak. MAU!

Si pencari kerja itu bermodalkan pengalaman seadanya untuk menjadi sales. Dia cuma pernah coba-coba menjadi makelar saat sekolah untuk menambah uang jajannya. Dia sudah menjadi pengangguran hampir selama 1 tahun setelah lulus sekolah. Dia hanya berpikiran ‘AKU TIDAK MAU JADI PENGANGGURAN’ dan ini kesempatan merintis karir dan mendapatkan status KARYAWAN.
Soal GAGAL atau BERHASIL ya terserah takdir Tuhan YME saja yang penting kita sudah berusaha sebatas kemampuan kita.

Setelah pembekalan Product Knowledge bla … bla … bla … si sales pendatang baru ini segera meluncur ke Jakarta dengan membawa beberapa sample produk dan segepok brosur.
Suka duka seorang sales benar-benar teruji di Jakarta yang kata orang, ‘KEJAMNYA JAKARTA LEBIH KEJAM DARI IBU TIRI.’ Si sales baru ini menawarkan produknya dari pintu ke pintu dan selalu men-sugesti diri dengan kata-kata:
“KERJA! JUALAN! … KERJA! JUALAN! … Kalau gagal tidak bisa jualan ya siap-siap menjadi SEORANG PENGANGGURAN dan AKU TIDAK MAU JADI PENGANGGURAN!”

Waktu berjalan 3 bulan, pada rapat kordinasi si sales bertemu si boss di kantor pusat.

Si boss : Bagaimana perkembangan pasar Jakarta?
Si Sales baru : Insya Allah bagus, pak boss. Kita masih ada harapan mendapatkan omset penjualan dari Jakarta walaupun ya berat di awal perjalanan. Beberapa orang sudah menunjukkan rasa tertarik pada produk kita walaupun belum ada transaksi.

Si boss : Bagus! Anda masih mau mengelola pasar Jakarta?
Si Sales baru : Insya Allah masih, pak boss. Pasar Jakarta masih sangat luas dan belum tergarap. Saya rasa produk kita juga bisa bersaing. Tapi saya harap ada perlakukan khusus untuk Jakarta soal harga produk, diskon, sistem pembayaran dll.
Si boss : Ok. Anda atur saja yang baik dan benar. Jangan sampai merugikan perusahaan ini ya.

Pada bulan ke-4, si sales baru ini merubah cara dan sistem penjualannya. Dia tidak lagi menawarkan produk ke konsumen langsung walaupun margin keuntungan lebih besar. Dia sekarang mengejar ke pembeli grosir yang mempunyai jaringan distribusi terpercaya.
Memang, penjualan grosir memberikan margin kecil tetapi omset bisa lebih diharapkan karena produk akan terserap dalam jumlah besar dalam waktu cepat. Sistem grosir juga berpengaruh pada piutang perusahaan karena ada pembayaran tempo mundur.

Begitulah, waktu terus berjalan.
Pada tahun ke-2 ada penambahan personil team Jakarta, pada tahun ke-3 kantor cabang berpindah dari kontrakan kecil ke kontrakan yang lebih besar karena kebutuhan ruang dan pasar yang semakin berkembang.

Note :
Kita tidak pernah mengetahui rahasia takdir Tuhan YME, tetapi percayalah bahwa Tuhan YME selalu membukakan jalan bagi umatNya yang mau bekerja dan berusaha sebatas kemampuan.
Cara pandang seseorang terhadap sebuah kasus yang sama sangat berpengaruh terhadap perubahan hidup di masa depan. Kacamata Sales yang berbeda menentukan nasibnya masing-masing.

JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?

If you enjoyed this article, please consider sharing it!

3 thoughts on “Kacamata Sales

  1. Pingback: Salesman : Think like an entrepreneur | negeribocah

  2. Pingback: Perjuangan: Dari Kecil Menuju Besar | negeribocah

  3. Pingback: Rahasia, Cerita Dewasa, Anak SMA | negeribocah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s