Saat Ronda Siskampling di komplek, seorang tetangga berkata : “Kenapa di negeri ini tidak ada budaya malu ya?”
“Maksudnya?”
“Iya, lihat aja tuh tingkah para pejabat. Mereka diduga bahkan ada yang sudah menjadi tersangka kasus korupsi, eh, mereka masih saja lenggak-lenggok tebar pesona dan pencitraan seolah mereka itu orang suci. Mereka tidak punya malu (atau kemaluan) ya?”
“Terus?”
“Penjahat seperti itu malah dilindungi, beda banget dengan maling ayam atau maling jemuran yang harus digebuki dan langsung divonis kurungan.”
“Maksudnya gimana?”
“Budaya malu sudah mati. Lihat itu di Jepang. Mereka yang terbukti bahkan cuma desas-desus tersangkut pidana saja langsung mundur dari jabatan publiknya. Lah disini malah berusaha menguasai kursi empuknya dan tidak mau digantikan oleh yang lain. Seharusnya kalau masih punya urat malu dan harga diri ya langsung mundur tanpa harus diminta dan didemo dulu. Itu saja masih ada yang tetap bandel tidak mau mundur. Payaaahhhh …”
—
Menurut Anda … Apakah kita tidak punya budaya malu?
Apa alasannya?

Yang punya ya punya..
Yang nggak punya lagi yam au gimana lagi?
untung saya mash punya rasa malu
yang betul adalah budaya lupa kalau punya malu…
Sungguh rugi dan celakalah bila seseorang sudah tak lagi memiliki rasa malu. Sebenarnya kita masihlah memiliki budaya malu, tapi sayang sering kita abaikan sehingga tingkah laku kita menjadi memalukan.
budaya malu? dimanakah engkau berada?
[...] orang. Sementara sebagian orang yang lain akan pantang dan menghindari kuliner ini karena alasan estetika pergaulan agar nafasnya tidak BAU NAGA. Tetapi, sebagai wong ndeso, petai adalah menu penambah selera makan. [...]